Berbahasa
Oleh : Maulina Yusfiani
Nama
saya Maulina Yusfiani. Saya
anak pertama dari pasangan Yusi Kusumayadi dan Miftahul Aini. Saya mempunyai
dua orang saudara perempuan. Hobi saya membaca. Saya sangat suka membaca terutama
membaca novel bergenre romantis. Di antara novel yang pernah saya baca
yaitu novel karya Ilana Tan, Boy Candra,
dan beberapa novel yang telah difilmkan. Di samping itu, saya juga suka
menulis. Saya biasanya menulis puisi atau menulis cerita tentang hidup saya. Menulis
menjadi salah satu cara saya mengungkapkan perasaan jika saya tidak dapat
mengungkapkannya secara lisan. Dulu saya pernah ingin meneruskan pendidikan ke
program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, namun Tuhan berkehendak lain.
Sekarang saya telah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Islam. Sebelum menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, dahulu saya adalah salah satu siswa SMAN 1 Selong, sebuah sekolah yang cukup terkenal dan
bergengsi di daerah saya.
Saya
berasal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Saya merupakan orang asli suku
Sasak. Suku Sasak merupakan sebutan untuk orang-orang pribumi di tanah Lombok.
Lombok dikenal sebagai daerah seribu masjid dan seribu bahasa. Setiap daerah di
Lombok memiliki logat bahasa yang hampir berbeda meski ada kemiripan pada setiap kata. Di daerah saya, tepatnya di Desa Labuhan Haji orang-orang
biasanya menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari-hari. Namun, ada beberapa daerah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, di
Perum, Labuhan Haji misalnya. Sebagian besar orang di sana
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Lain halnya dengan di
sekolah. Di sekolah saya, siswa-siswi menggunakan bahasa Indonesia sebagai
bahasa pengantar, namun ketika di luar kelas atau sedang tidak berada di forum
resmi terkadang ada sebagian yang menggunakan bahasa daerahnya untuk
berkomunikasi. Di sekolah, kami tentunya mempelajari Bahasa Indonesia. Saat
pelajaran Bahasa Indonesia, kami di haruskan berbicara menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar atau bahasa Indonesia yang baku terutama saat
diskusi. Jika ada kata yang tidak baku dalam pengucapannya saat diskusi
berlangsung, kami ditegur oleh Bapak guru atau teman. Bahkan ada pula siswa/siswi
yang menggunakan bahasa Indonesia yang baku meskipun tidak dalam forum resmi
atau tidak hanya saat diskusi berlangsung. Hal ini merupakan salah satu cara
agar kami membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar