Sabtu, 08 September 2018



Berbahasa
Oleh    : Maulina Yusfiani
Nama saya Maulina Yusfiani. Saya anak pertama dari pasangan Yusi Kusumayadi dan Miftahul Aini. Saya mempunyai dua orang saudara perempuan. Hobi saya membaca. Saya sangat suka membaca terutama membaca novel bergenre romantis. Di antara novel yang pernah saya baca yaitu novel  karya Ilana Tan, Boy Candra, dan beberapa novel yang telah difilmkan. Di samping itu, saya juga suka menulis. Saya biasanya menulis puisi atau menulis cerita tentang hidup saya. Menulis menjadi salah satu cara saya mengungkapkan perasaan jika saya tidak dapat mengungkapkannya secara lisan. Dulu saya pernah ingin meneruskan pendidikan ke program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, namun Tuhan berkehendak lain. Sekarang saya telah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Sebelum menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, dahulu saya adalah salah satu siswa SMAN 1 Selong, sebuah sekolah yang cukup terkenal dan bergengsi di daerah saya.
Saya berasal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Saya merupakan orang asli suku Sasak. Suku Sasak merupakan sebutan untuk orang-orang pribumi di tanah Lombok. Lombok dikenal sebagai daerah seribu masjid dan seribu bahasa. Setiap daerah di Lombok memiliki logat bahasa yang hampir berbeda meski ada kemiripan pada setiap kata. Di daerah saya, tepatnya di Desa Labuhan Haji orang-orang biasanya menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari-hari. Namun,  ada beberapa daerah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, di  Perum, Labuhan Haji misalnya. Sebagian besar orang di sana menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Lain halnya dengan di sekolah. Di sekolah saya, siswa-siswi menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, namun ketika di luar kelas atau sedang tidak berada di forum resmi terkadang ada sebagian yang menggunakan bahasa daerahnya untuk berkomunikasi. Di sekolah, kami tentunya mempelajari Bahasa Indonesia. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, kami di haruskan berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar atau bahasa Indonesia yang baku terutama saat diskusi. Jika ada kata yang tidak baku dalam pengucapannya saat diskusi berlangsung, kami ditegur oleh Bapak guru atau teman. Bahkan ada pula siswa/siswi yang menggunakan bahasa Indonesia yang baku meskipun tidak dalam forum resmi atau tidak hanya saat diskusi berlangsung. Hal ini merupakan salah satu cara agar kami membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar