Selasa, 16 Oktober 2018

Kalimat Efektif
Kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan (KBBI). Suatu kalimat harus bersifat efektif untuk memudahkan pembaca dalam memahami maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Suatu kalimat dikatakan efektif jika memenuhi beberapa syarat diantaranya,kesatuan, kepaduan, keparalelan, ketepatan, kehematan, dan kelogisan. Berikut disajikan beberapa contoh kalimat tidak efektif beserta penjelasannya.
Contoh pertama, Para duta-duta besar sudah pada berdatangan hadir pada upacara peringatan 100 tahun Bung Hatta. Kalimat yang bercetak miring tidak dapat dikatakan sebagai kalimat efektif karena dalam kalimat tersebut terdapat syarat yang tidak terpenuhi, yakni syarat kehematan. Kehematan dalam sebuah kalimat berarti adanya upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu. Pada kalimat yang bercetak miring tersebut terdapat pemborosan kata seperti para duta-dutar yang seharusnya ditulis duta-duta atau para duta, sudah pada berdatangan hadir sebaiknya diganti menggunakan frasa telah menghadiri agar pembaca dapat dengan mudah memahami maksud penulis dan tidak terkesan berbelit-belit. Adapun untuk ejaannya sudah tepat, yakni dalam penggunaan huruf kapital di awal kalimat dan nama orang. Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, perbaikan kalimat yang bercetak miring menjadi Para duta besar telah mengahdiri upacara peringatan 100 tahun Bung Hatta atau Duta-duta besar telah menghadiri upacara peringatan 100 tahun Bung Hatta.
Contoh kedua yaitu, Dari hasil pemeriksaan telah membuktikan dalam kasus pengeboman itu dia tidak terlibat sama sekali. Pada kalimat yang bercetak miring tersebut terdapat beberapa kesalahan. Pertama, dalam suatu kalimat seharusnya tidak diawali dengan konjungsi, karena penempatan konjungsi diawal kalimat akan menghilangakan kedudukan atau fungsi kata/frasa yang menjadi subjek. Kedua, kalimat tersebut disampaikan secara berbelit-belit sehingga pembaca akan kesulitan dalam memahami maksud yang ingin disampaikan penulis. Berdasarkan kesalahan tersebut, kalimat yang bercetak miring belum dapat dikelompokkan sebagai kalimat efektif dan terdapat syarat yang tidak terpenuhi, yakni syarat kehematan. Untuk memenuhi syarat kehematan, terdapat kata yang harus dihilangkan, seperti kata dari, sama sekali dan itu. Kemudian kata hasil atau telah dipilih salah satu, karena kata tersebut menunjukkan makna yang sama. Oleh karena itu, perbaikan yang tepat untuk kalimat yang bercetak miring yaitu, Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa dia tidak terlibat dalam kasus pengeboman, ini merupakan kalimat pasif karena objek yang berupa hasil pemeriksaan diubah menjadi subjek.  Adapun kalimat aktifnya menjadi Dia tidak terlibat kasus pengeboman  dibuktikan dari  hasil pemeriksaan.

Contoh ketiga yaitu, Dalam kehidupan ini penuh dengan ketidakpastian, kecuali kematian. Kalimat yang bercetak miring belum dapat dikelompokkan sebagai kalimat efektif karena dalam kalimat tersebut terdapat syarat yang tidak memenuhi keefektifan suatu kalimat, yakni syarat kehematan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebaiknya awal kalimat tidak didahului oleh konjungsi, sehingga kata dalam sebaiknya dihilangkan. Kata ini dihilangkan agar kalimatnya lebih efektif, kehidupan diubah menjadi hidup. Adapun penulisan ketidakpastian sudah sesuai dengan kaidah, dimana jika ada dua kata yang memiliki satu makna dan setiap kata diberi prefiks dan sufiks, maka penulisannya digabungkan. Oleh karena itu,  perbaikan kalimat yang tepat yaitu Hidup penuh dengan ketidakpastian, kecuali kematian.

Sabtu, 08 September 2018



Berbahasa
Oleh    : Maulina Yusfiani
Nama saya Maulina Yusfiani. Saya anak pertama dari pasangan Yusi Kusumayadi dan Miftahul Aini. Saya mempunyai dua orang saudara perempuan. Hobi saya membaca. Saya sangat suka membaca terutama membaca novel bergenre romantis. Di antara novel yang pernah saya baca yaitu novel  karya Ilana Tan, Boy Candra, dan beberapa novel yang telah difilmkan. Di samping itu, saya juga suka menulis. Saya biasanya menulis puisi atau menulis cerita tentang hidup saya. Menulis menjadi salah satu cara saya mengungkapkan perasaan jika saya tidak dapat mengungkapkannya secara lisan. Dulu saya pernah ingin meneruskan pendidikan ke program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, namun Tuhan berkehendak lain. Sekarang saya telah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Sebelum menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, dahulu saya adalah salah satu siswa SMAN 1 Selong, sebuah sekolah yang cukup terkenal dan bergengsi di daerah saya.
Saya berasal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Saya merupakan orang asli suku Sasak. Suku Sasak merupakan sebutan untuk orang-orang pribumi di tanah Lombok. Lombok dikenal sebagai daerah seribu masjid dan seribu bahasa. Setiap daerah di Lombok memiliki logat bahasa yang hampir berbeda meski ada kemiripan pada setiap kata. Di daerah saya, tepatnya di Desa Labuhan Haji orang-orang biasanya menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari-hari. Namun,  ada beberapa daerah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, di  Perum, Labuhan Haji misalnya. Sebagian besar orang di sana menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Lain halnya dengan di sekolah. Di sekolah saya, siswa-siswi menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, namun ketika di luar kelas atau sedang tidak berada di forum resmi terkadang ada sebagian yang menggunakan bahasa daerahnya untuk berkomunikasi. Di sekolah, kami tentunya mempelajari Bahasa Indonesia. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, kami di haruskan berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar atau bahasa Indonesia yang baku terutama saat diskusi. Jika ada kata yang tidak baku dalam pengucapannya saat diskusi berlangsung, kami ditegur oleh Bapak guru atau teman. Bahkan ada pula siswa/siswi yang menggunakan bahasa Indonesia yang baku meskipun tidak dalam forum resmi atau tidak hanya saat diskusi berlangsung. Hal ini merupakan salah satu cara agar kami membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.